Sebelum saya menjawab pertanyaa ini, ada satu hal yang harus diperjelas. Dalam Bahasa Ingris ada perbedaan antara kata-kata fastest dengan quickest. Sedangkan di dalam bahasa Indonesia ini diterjemahkan menjadi yang sama, yaitu tercepat.
Perbedaannya apa? Fast dalam drag race itu biasanya mengukur seberapa cepat suatu mobil pada saat melewati garis finish (kph), sedangkan quick mengukur waktu yang dibutuhkan suatu mobil dari start sampai finish (detik). Jadi fast mengukur kecepatan dan quick mengukur waktu. Mobil yang fastest artinya pada saat melewati finish line, kecepatan dalam satuan kilometer per jam nya lebih tinggi daripada lawannya, tetapi belum tentu mobil tersebut melewati finish line terlebih dahulu dibanding lawan. Sebaliknya quickest artinya mobil ini melewati garis finish terlebih dahulu dibanding mobil lawannya, tetapi secara kecepatan dalam kilometer per jam nya belum tentu di atas lawannya.
Ini contohnya:
Kita ambil dari daftar di atas, khususnya kita bandingkan no. 12 Ferrari LaFerrari, dengan no. 13 Mclaren P1. Di antara dua mobil ini, Ferrari ini menang karena dia quickest, atau berhasil lewat garis finish di waktu 9.7 detik, sedangkan McLaren kalah 0.1 detik melewati garis finish di 9.8 detik. Tetapi kalau kita perhatikan kecepatannya Mclaren pada saat dia melewati garis finish, di 152.2 mph dibanding Ferrari yang hanya 149.1 mph. Artinya fastest antara dua mobil tersebut adalah McLaren.
Jadi quickest adalah Ferrari La Ferrari, fastest McLaren P1 dalam kasus ini.
Sekarang kita kembali ke pertanyaan semula, mengapa mobil listrik tidak secepat mobil bensin? Apakah betul mobil listrik tidak secepat mobil bensin? Jawabannya tergantung dari beberapa kondisi:
  1. Yang diukur itu fast atau quick?
  2. Mobil listrik apa dan mobil bensin apa yang menjadi perbandingan?
Karena kebanyakan orang yang akan membeli mobil bukan membeli supercar, saya akan membandingkan mobil umum saja, dan saya akan membandingkan secara spesifikasi dari manufaktur. Dan karena setiap manufaktur mengukur dengan cara yang berbeda, kita juga harus asumsi ada sedikit perbedaan pada saat kita coba secara real-world test.
Mobil yang saya pilih sebagai perbandingan adalah BMW 320i G20, Mercedes Benz C200 W205, dan Tesla Model 3 Standard Range. Mengapa saya bandingkan 3 mobil ini? Karena ke-tiga mobil tersebut berada di kisaran harga yang sama (USD 35,000) dan boleh dibilang adalah entry-level mobil mewah di banyak negara. Saya tidak membandingkan harga di Indonesia karena Tesla belum masuk secara resmi, dan perpajakan mobil listrik masih belum jelas.
BMW 320i G20 adalah model BMW seri 3 terbaru, dan baru diluncurkan di Indonesia tahun lalu (2019) dan menjadi mobil andalan BMW di seluruh dunia. 320i ini menggunakan mesin 4 silinder 1998cc (dibulatkan 2.0L) twin-turbo yang menghasilkan tenaga 181 hp dan 300 Nm disalurkan ke roda belakang dan dapat menempuh 0–100 kph dalam 7.2 detikTop Speed mobil ini 238 kph. (Sumber: BMW 3 Series (G20) – Wikipedia
)


Mercedes Benz C200 W205, walaupun sudah beberapa tahun merupakan model Mercedes C-Class paling baru, diluncurkan tahun 2015. Walaupun pada awalanya Mercedes mengunakan mesin 4 silinder berkapasitas 1991cc, dimulai dari pertengahan 2018, C200 facelift diberikan tipe mesin baru yaitu mesin 4 silinder Mild Hybrid engine dengan kapasitas 1497cc (dibulatkan 1.5L) bi-turbo yang menghasilkan 181 hp dan 280 Nm disalurkan ke roda belakang dan dapat menempuh 0–100 kph dalam 7.7 detikTop Speed mobil ini 239 kph. (Sumber: Mercedes-Benz C-Class (W205) – Wikipedia
)


Mari kita lihat mobil listrik entry-level perbandingannya: Tesla Model 3 Standard Range. Model 3 yang umurnya belum setahun (launching Maret 2019) memiliki mesin full electric yang menghasilkan tenaga equivalent sebesar 340 hp dan 450 Nm disalurkan ke roda belakang dan dapat menempuh 0–97 kph dalam 5.6 detikTop speed mobil ini 209 kph. (Sumber: Tesla Model 3 – Wikipedia
)


Mari kita recap:
BMW 320i G20 – 181hp/300Nm, 0–100: 7.2s, TS: 238kph
MB C200 W205 – 181hp/280Nm, 0–100: 7.7s, TS: 239kph
Tesla Model 3 SR – 340hp/450Nm, 0–97: 5.6s, TS: 209kph


Sudah jelas dong ya mana yang fastest dan mana yang quickest? Ini baru perbandingan model entry-level saja. Bagaimana dengan spec Tesla Model S P100D, mobil listrik produksi standar (non supercar, non hypercar) tercepat?
Tesla Model S P100D Ludicrous – 794hp/1,373Nm, 0–100: 2.6s, TS: 249kph
Model S ini mobil keluarga dengan kapasitas penumpang 5+2, dengan performa yang bisa menyaingi mobil hypercar tercepat di dunia secara quickness (bahkan mengalahkan waktu 0–100 LaFerrari (2.7s) dan P1 (2.8s) yang kita bandingkan tadi), yang peruntukannya hanya untuk track/balap.
Sehari-hari?
Namun pertanyaan berikutnya, buat sehari-hari, mana di antara 3 mobil standar tadi yang akan lebih enak dipakai di jalanan Indonesia, tanpa memikiran isu pengisian bahan bakar atau listrik? Menurut saya Model 3. Kenapa? Karena sebagian besar kita mengemudi itu di bawah 100 kph. Artinya di Indonesia dibutuhkan mobil yang quick, bukan fast. Kalau kita bicara kemacetan Jakarta yang sudah parah, kita butuh mobil yang bisa “nyodok” di tengah kemacetan untuk tidak didahului orang yang motong jalur. Keunggulan mobil listrik ini tidak menggunakan transmisi, artinya tidak ada efficiency loss di transmisi secara tenaga dan waktu. Mesin ini juga tidak menggunakan mesin turbo dimana butuh waktu untuk turbo spool-up, menghasilkan fenomena yang terkenal dengan nama turbo-lag. Artinya mesin listrik ini tenaganya instant, hampir tidak ada jeda antara saat kita menekan gas dan penyaluran tenaga ke roda, suatu keunggulan pada saat mengemudi di kemacetan Jakarta.
Untuk penutup, coba lihat lagi daftar mobil tercepat di dunia tadi, khususnya nomor 9, Rimac C_Two. C_Two lebih quick dibanding dua mobil yang kita bicarakan di awal, Ferrari LaFerrari dan McLaren P1 dan sudah masuk ke kategori mobil Hypercar. Jadi apakah anda masih berpikiran mobil listrik tidak secepat mobil bensin?