Rangkaian Listrik Seri dan Paralel: Karakteristik, Fungsi & Contoh

Diposting pada

Dalam kehidupan sehari-hari, rangkaian listrik menjadi bagian yang tak terpisahkan. Rangkaian  adalah jalur yang memungkinkan elektron mengalir dari sumber arus listrik. Perpindahan ini adalah listrik.

Ada berbagai jenis rangkaian, namun yang paling umum adalah rangkaian seri dan paralel. Kedua jenis rangkaian ini memiliki karakteristik dan penerapan yang berbeda.

Misalnya, lampu jalan biasanya menggunakan rangkaian seri, sementara lampu di rumah menggunakan rangkaian paralel. Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting, terutama bagi mereka yang berkecimpung di bidang teknik elektro.

Memahami Rangkaian Listrik dan Jenisnya

Rangkaian listrik adalah jalur yang memungkinkan aliran arus listrik. Ada beberapa jenis rangkaian  yang memiliki karakteristik dan fungsi berbeda:

1. Rangkaian D.C. (Direct Current)

Rangkaian D.C. (Direct Current)

Arus yang mengalir hanya memiliki satu arah. Magnitudo arus tetap konstan.

2. Rangkaian A.C. (Alternating Current)

Arus yang mengalir berubah-ubah arahnya secara periodik. Magnitudo dan arah arus berubah pada interval waktu tertentu.

3. Rangkaian Tertutup (Closed-Circuit)

Jalur arus listrik tertutup sempurna. Arus dimulai dari terminal positif sumber, melewati beban, dan kembali ke terminal negatif sumber.

4. Rangkaian Terbuka (Open Circuit)

Tidak ada arus yang mengalir karena adanya pemutusan jalur. Jalur arus tidak lengkap.

5. Rangkaian Singkat (Short Circuit)

Terjadi ketika kabel netral dan kabel fase bersentuhan. Arus kembali langsung ke terminal negatif tanpa melewati beban.

6 Rangkaian Seri

Komponen dihubungkan secara berurutan. Arus yang mengalir sama di setiap komponen. Tegangan total dan resistensi total adalah jumlah dari masing-masing tegangan serta resistensi pada suatu rangkaian.

7. Rangkaian Paralel

Komponen dihubungkan secara sejajar. Tegangan yang diterima oleh setiap komponen sama. Arus total merupakan penjumlahan di masing-masing cabang yang muncul atau dibuat. Resistansi total dihitung berdasarkan kebalikan jumlah dari kebalikan resistansi setiap komponen.

Rangkaian listrik memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman tentang jenis-jenis rangkaian dan cara kerjanya membantu dalam desain, pemecahan masalah, dan penerapan teknologi listrik. Khusus untuk artikel ini kita akan fokus ke seri dan paralel.

Karakteristik Rangkaian Seri

Rangkaian yang hanya memiliki satu jalur untuk menyebarkan arus. Proses penyusunannya dilakukan secara berurutan.

Komponen disusun dalam satu jalur tanpa percabangan. Arus listrik mengalir dari sumber tegangan, melewati setiap komponen, dan kembali ke sumber tegangan.

Ciri-ciri Rangkaian Seri

  • Hanya terdapat satu jalur.
  • Semua komponen disusun dalam satu baris atau deret tanpa percabangan.
  • Arus yang mengalir sama.
  • Tegangan tergantung dengan nilai hambatan.
  • Menghasilkan hambatan yang lebih besar.

Karakteristik Rangkaian Paralel

Rangkaian paralel adalah jenis konfigurasi sirkuit listrik di mana beberapa komponen elektronik terhubung secara sejajar atau paralel satu sama lain.

Dalam rangkaian paralel, tegangan yang sama diterapkan pada semua komponen, sedangkan arus dibagi di antara mereka. Ini memiliki beberapa karakteristik utama.

Ciri-ciri Rangkaian Paralel

  • Tegangan di rangkaian sama.
  • Arus terbagi merata di antara cabang-cabang paralel.
  • Resistansi total lebih rendah dari komponen terendah.
  • Kegagalan satu cabang tidak memengaruhi yang lain.
  • Cabang dapat memiliki perangkat dengan voltase berbeda.
  • Digunakan dalam berbagai aplikasi dengan berbagai perangkat.

Penggunaan Rangkaian Seri dan Paralel

Rangkaian seri dan paralel adalah dua jenis pengaturan komponen dalam suatu rangkaian listrik. Berikut adalah penjelasan singkat tentang penggunaan keduanya:

  1. Rangkaian Seri
  • Komponen-komponen dalam rangkaian disusun secara sejajar, sehingga arus listrik mengalir melalui setiap komponen secara berurutan.
  • Tegangan total dalam rangkaian seri adalah jumlah dari tegangan di setiap komponen.
  • Ketika resistor dihubungkan secara seri, resistansinya ditambahkan:
  • Rangkaian seri cocok untuk mengurangi arus dalam suatu rangkaian atau membagi tegangan pada beberapa komponen.
  1. Rangkaian Paralel
  • Komponen-komponen dalam rangkaian dihubungkan secara paralel, sehingga memiliki dua titik awal yang sama dan dua titik akhir yang sama.
  • Tegangan pada setiap komponen dalam rangkaian paralel sama, tetapi arus terbagi di antara mereka.
  • Ketika resistor dihubungkan secara paralel, resistansinya dihitung sebagai kebalikan dari jumlah invers resistansi masing-masing resistor:
  • Rangkaian paralel cocok untuk menggabungkan beban-beban dengan tegangan yang sama.

Penggunaan rangkaian seri dan paralel bergantung pada tujuan spesifik dalam perangkat listrik atau rangkaian elektronik.

Rangkaian seri digunakan untuk mengatur resistansi atau mengurangi arus, sementara rangkaian paralel digunakan untuk membagi beban atau mempertahankan tegangan yang konstan. Kombinasi dari keduanya juga sering digunakan dalam rangkaian kompleks.

Rumus untuk Rangkaian Seri dan Paralel

Resistansi Total (Rangkaian Seri)

Jika Anda menghubungkan resistor dalam rangkaian seri, resistansi totalnya adalah jumlah resistansi individu dari setiap resistor yang terhubung dalam rangkaian tersebut. Ini berarti resistansi total R total  sama dengan resistansi R1+R2+R3 dan seterusnya.

Rumus:

R total = R1 + R2 +R3 + …

Penjelasan: Saat resistor dihubungkan secara seri, arus listrik mengalir melalui masing-masing resistor berturut-turut, sehingga resistansi total adalah hasil penambahan resistansi masing-masing resistor.

Resistansi Total (Rangkaian Paralel)

Jika Anda menghubungkan resistor dalam rangkaian paralel, resistansi totalnya dihitung dengan menggunakan rumus kebalikan dari jumlah invers resistansi masing-masing resistor. Ini berarti kebalikan resistansi total. 1/R total = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 , dan seterusnya.

Rumus:

1/R total = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + …

Penjelasan: Dalam rangkaian paralel, tegangan yang sama diberikan kepada semua resistor, dan arus terbagi di antara mereka. Jadi, resistansi total dihitung dengan mengambil kebalikan dari jumlah invers resistansi individu.

Contoh Soal

  1. Anda memiliki rangkaian seri dengan tiga resistor, masing-masing memiliki resistansi sebagai berikut:

Resistor 1: 10 ohm

Resistor 2: 20 ohm

Resistor 3: 30 ohm

Bagaimana total resistansi (R_total) dari rangkaian ini?

Jawaban:

Total resistansi (R_total) dalam rangkaian seri dihitung dengan menjumlahkan resistansi masing-masing resistor:

R_total = R1 + R2 + R3

R_total = 10 ohm + 20 ohm + 30 ohm

R_total = 60 ohm

Jadi, total resistansi dari rangkaian ini adalah 60 ohm.

  1. Anda memiliki dua baterai dengan tegangan sebagai berikut:

Baterai 1: 6 volt

Baterai 2: 9 volt

Jika kedua baterai ini dihubungkan dalam rangkaian seri, berapa total tegangan (V_total) yang akan dihasilkan?

Jawaban:

Total tegangan (V_total) dalam rangkaian seri dihitung dengan menjumlahkan tegangan dari masing-masing baterai:

V_total = V1 + V2

V_total = 6 volt + 9 volt

V_total = 15 volt

Jadi, total tegangan dari rangkaian seri ini adalah 15 volt.

  1. Anda memiliki tiga resistor dalam rangkaian paralel dengan resistansi sebagai berikut:

Resistor 1: 5 ohm

Resistor 2: 10 ohm

Resistor 3: 20 ohm

Bagaimana total resistansi (R_total) dari rangkaian ini?

Jawaban:

Total resistansi (R_total) dari rangkaian paralel dihitung dengan rumus berikut:

1/R total = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + …

1/R total = 1/5 + 1/10 + 1/20 = 4/20

Jadi R total = 20/4 = 5 ohm

Rangkaian listrik, baik seri maupun paralel, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pemahaman mendalam tentang keduanya memungkinkan kita untuk memilih jenis rangkaian yang paling sesuai untuk kebutuhan tertentu.

Selain itu, dengan mengetahui cara kerja dan rumus perhitungan masing-masing rangkaian, kita dapat mengoptimalkan penggunaan energi dan meningkatkan efisiensi sistem listrik. Sudah lebih paham dengan rangkaian seri dan paralel?