Pernah mendengar VUCA? Ya VUCA, istilah VUCA pertama kali digunakan dalam dunia militer pada era 90-an untuk menggambarkan situasi medan tempur yang dihadapi pasukan perang, dimana informasi mengenai medan perang dan kekuatan lawan sangat terbatas. Bertempur dalam informasi yang terbatas serasa berjalan dalam kebutaan dan bisa menimbulkan kekacauan dan kekalahan. Keadaan ini yang diistilahkan sebagai Medan Perang Kabut atau Fog War. Istilah VUCA ini dipakai untuk menggambarkan kondisi dunia saat ini. VUCA merupakan kepanjangan Volatolity Uncertainty Complexity dan Ambiguity. 
V yaitu Volatolity sebuah kondisi di mana yang namanya perubahan sangat cepat sekali. Sekitar 3 tahun yang lalu saya mulai belajar tentang Internet of Things (IoT), belum selesai belajar Iot muncul lagi yang namanya Artificial Intelligence kita pasti penasaran apa yang namanya AI ini, belum selesai mempelajari namanya Virtual Reality. Lalu muncul lagi yang Namanya Bitcoin, baru baca baca tentang bitcoin saat ini muncul lagi namanya Cryptocurrency. Itulah Volatolity yaitu perubahan begitu cepat sekali, begitu juga dengan smartphone kita yang setiap tahun mengeluarkan varian yang baru dan menawarkan teknologi baru yang lebih canggih. Mulai dari kameranya, baterainya yang fast charger sampai ke semua fitur – fiturnya 

Berikutnya U (Uncertainty) atau ketidakpastian. Sekitar 10 tahun lalu bisnis batu bara sangat menjanjikan, banyak sekali orang kaya karena bisnis batu bara ini. Tetapi sejak kebijakan pemerintah untuk melarang ekspor batu bara karena hanya dipakai dalam negeri, setelah kondisi ini bisnis batu bara menjadi turun. Banyak sekali perusahaan yang bangkrut akibat kebijakan pemerintah ini. Tidak ada jaminan untuk memiliki skill tertentu atau knowledge tertentu akan membawa kita menjadi sukses, tidak ada jaminan bekerja di Perusahaan BUMN atau perusahaan yang mapan sekalipun dibandingkan bekerja di perusahaan setaaf anda akan aman, tidak ada jaminan menempuh pendidikan sekolah lebih tinggi akan lebih sukses dibandingkan dengan lulusan SMK.

Berikutnya C yaitu Complexity atau kompleksitas kompleksitas. Saya berikan contoh ketika kita akan mengambil suatu keputusan, keputusan bagaimana menaikkan penjualan biasanya faktor-faktornya adalah meningkatkan jumlah customer; menambah jumlah marketing; menambah jumlah cabang di semua provinsi, Tetapi di era complexity ini faktor-faktor yang mempengaruhi penjualan sangat kompleks seperti toko online, sosial media, jumlah reseller, banyaknya haters. Ada berita di televisi jangan menggunakan produk ini karena mengandung bahan berbahaya tiba-tiba produk anda tidak laku. Kompleksitas juga dipengaruhi banyaknya jumlah kompetitor, distruksi teknologi berubahnya pola komsumsi, regulasi pemerintah yang begitu kompleks dan perubahan lainnya.

Berikutnya A yaitu Ambiguity atau ambigu (membingungkan). Saya berikan contoh tahun lalu kita sukses menggunakan strategi Canvasing / door to door dan tahun ini kita mencoba kembali menggunakan strategi yang sama dengan cara yang sama, hasilnya berbeda dengan tahun yang lalu. Kalau berikutnya Negara Yunani, negara kecil di Benua Eropa yang namanya negara kecil harusnya memiliki pengaruhnya kecil. Tetapi ketika akhirnya dinyatakan bangkrut tidak bisa membayar hutang, banyak sekali negara-negara industri di Eropa ikut terguncang karena Negara Yunani ini, kenapa? karena semua negara sudah terhubung. Itulah ambigu yang tidak tahu ini ada apa. 

Industri, Industri 4, 0, Internet Hal

Lalu pertanyaannya adalah bagaimana menghadapi VUCA? keterampilan apa yang diperlukan? menurut World Economic Forum tahun 2016 disimpulkan ada 10 skill yang dibutuhkan untuk menghadapi era VUCA ini. 
Yang pertama yaitu complex problem solving, yaitu kemampuan smart people untuk menyelesaikan masalah yang kompleks menyelesaikan masalah yang rumit dan menyelesaikan masalah yang sering berulang masalah, menyelesaikan yang terjadi di lingkungan sekitar kita. 

Kedua yaitu critical thinking kemampuan berpikir kritis, kemampuan melihat gambaran yang besar dalam suatu masalah dan akar masalahnya sehingga bisa melihat kejanggalan atau hal-hal yang tidak masuk akal bisa dikritisi. 

Ketiga yaitu Creativity kemampuan menciptakan hal-hal baru atau cara-cara baru yang berbeda dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. 

Keempat yaitu people management kemampuan mengelola menggerakan orang, kemampuan berkoordinasi dengan orang lain dengan departemen lain untuk mencapai tujuan bersama, mencapai visi bersama, mencapai misi Bersama. 

Kelima coordinating with other kemampuan untuk berkolaborasi, berdiskusi kelompok berorganisasi yang baik, kemampuan menyampaikan ide menyampaikan gagasan, memiliki sikap yang positif apabila ide atau gagasan kita ditolak oleh organisasi. 

Yang keenam yaitu emotional intelligence atau kecerdasan emosional untuk mengelola diri sendiri dan dan orang lain, mampu berinteraksi secara positif antara satu dengan yang lain, mampu menghargai pendapat orang lain, mampu menghargai yang namanya perbedaan. 

Yang ketujuh yaitu Judgement and decision making kemampuan menilai dan mengambil keputusan yang cepat dan tepat terutama dalam kondisi yang cepat sekali berupa, kondisi yang serba sulit serba tidak pasti. 

Kedelapan yaitu service orientation, kemampuan untuk berorientasi memberikan pelayanan yang terbaik, memberikan pelayanan yang melebihi dari harapan, kemampuan untuk berempati kepada orang lain. 

Yang kesembilan negotiation, kemampuan untuk bernegosiasi, kemampuan untuk meyakinkan orang lain bahwa apa yang kita sampaikan adalah win – win bukan win – lose. 

Dan yang terakhir yang kesepuluh yaitu cognitive flexibility, kemampuan untuk mudah beradaptasi, mudah menyesuaikan terhadap hal-hal baru. 

Itulah tadi sepuluh skill yang dibutuhkan oleh smart people untuk menghadapi era VUCA menghadapi revolusi industri yang ke-4 dimana skill ini tidak dimiliki oleh robot, tidak bisa digantikan oleh mesin. Skill ini yang harus dilatih secara terus-menerus atau berkesinambungan supaya kita bisa menang di era VUCA.