ILMU TEKNIK : PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA INDUSTRI

PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA INDUSTRI

A. Konsep Ergonomi

 

Ergonomi adalah ilmu yang menserasikan alat, cara, dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan, dan keterbatasan demi tercapainya keselamatan, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan efisiensi serta produktivitas kerja yang setinggi-tingginya. Keselamatan dan kesehatan kerja pada industri akan dapat tercapai apabila konsep ergonomi ini mulai diterapkan sejak perencanaan (Conceptual Ergonmics) dimana konsep keserasian hubungan dengan  tuntutan tugas serta lingkungannya direncanakan sedemikian rupa sehingga nantinya dapat bekerja dengan aman, nyaman, sehat, efektif dan produktif. Disamping itu usaha- usaha perbaikan (Correction Ergonomics) juga harus tetap dilakukan guna terus dapat meciptakan kenyamanan kondisi kerja sehingga tercapai produktivitas yang setinggi-tingginya serta terjaminnya keselamatan dan kesehatan kerja (Manuaba, 1998).
Ergonomi sebagai sebuah ilmu yang bersifat multidisipin berhubungan dengan aspek yang sedang kekerja yang bertujuan untuk:
a.              Meningkatkan kesehatan fisik dan mental, khususnya mencegah penyakit akibat kerja, mengurangi beban fisik dan mental pekerja, dan kepuasan kerja.
b.             Meningkatkan kesejahteraan sosial pekerja dengan dengan jalan meningkakan kualitas kontak kerja dan mengorganisirpekerjaan agar tercapai kepuasan kerja setinggi-tingginya.
c.              Meningkakan efisiensi interaksi -mesin hingga tercipta keseimbangan rasional antara aspek teknik, ekonomi, antropometri , budaya, dan agama demi terciptanya keselamatan dan kesehatan kerja di industri.
Adapun aspek ergonomi yang berkaian dengan usaha peningkatan keselamatan kerja adalah meliputi masalah antara lain (Manuaba, 1998):

1.  Energi/nutrisi

dalam melakukan aktivitas kerja sangat jelas membutuhkan sejumlah energi yang dapat diperoleh dari makanan. Dengan makanan yang cukup dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Makanan yang cukup sebagai sumber nutrisi tubuh mutlak diperlukan agar tetap dapat bekerja dengan irama kerja yang tetap selama waktu kerja. Kekurangan kalori atau energi selama kerja akan cendrung memperlambat irama kerja dan bahkan dapat menimbulkan kelelahan secara dini yang dapat menjadi sumber kecelakaan kerja

2.  Aplikasi tenagaotot

Pemanfaatan tenaga otot secara optimal harus memperhatikan umur seseorang, dimana umur 25 tahun terdapat puncak dari kapasitas seseorang. Setelah itu terjadi penurunan, dimana kekuatan otot menurun 25 % dan kapasitas sensoris- motoris 60 % dari umur 25 ke 60 tahun. Karena adanya masalah di atas dan penurunan berbagai kemampuan biologis lainnya seperti penurunan tajam penglihatan, pendengaran, dan membedakan sesuatu, mengambil keputusan, dan hilangnya daya ingat masa dekat, maka orang tua sudah tidak cocok untuk melakukan tugas-tugas yang memerlukan ketelitian dan kecermatan serta kecepatan yang tinggi. Untuk itu orang tua perlu diberi pekerjaan yang ringan dan lambat. Kalau kondisi ini dipaksakan maka akan terjadi penurunan produktivitas dan bahkan kecelakaan kerja.
Peralatan yang dioperasikan dengan pengerahan tenaga otot, desainnya perlu diperhatikan agar tercipta gerakan otot yang alamiah, seperti angkat-angkut, gerakan memegang, memutar, dan lainnya. Mesin-mesin maupun alat bantu produksi haruslah dapat dioperasikan dengan gerakan yang alamiah guna menghindari keluhan otot akibat sikap kerja paksa pada saat bekerja. Akibat gerakan otot yang yang tidak alamiah maka dapat menimbulkan bebagai keluhan kelelahan dan keluhan pada sistem otot skeletal yang berakibat pada tergangunya kesehatan kerja dan dapat menimbulkan kecelakaan kerja.

3.  Posisi tubuh

Posisi tubuh yang salah pada saat kerja dapat menyebabkan kesulitan melakukan aktivitas kerja yang berakibat pada penurunan produktivias kerja. Disamping itu sikap kerja paksa selama kerja akan memberikan beban tambahan kepada pekerja yang sebenarnya tidak perlu. Untuk itu perencanaan tempat kerja dan stasiun kerja haruslah dirancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan data antropometri pekerjanya sehingga tercipta sikap kerja yang alamiah. Sikap kerja yang tidak alamiah dapat menimbulkan bebagai keluhan pada sistem otot skeletal yang juga dapat berakibat pada sakit akibat kerja dan kecelakaan kerja.

4.  Kondisi lingkungan

Lingkungan yang nyaman sangat diperlukan oleh pekerja untuk bisa bekerja secara optimal dan produktif. Penerangan yang memadai jelas memumngkinkan pekerja dapat melihat objek yang dikerjakan dengan jelas. Sehingga tidak menimbulkan kesalahan persepsi dan operasi dari pekerjaannya. Demikian juga suhu di tempat kerja yang naman sangat dibutuhkan agar pekerja dapat bekerja dengan nyaman, dan tidak menimbulkan beban tambahan akibat suhu yang tinggi. Bekerja pada suhu yang tinggi menyebabkan pekerja banyak mengeluarkan keringat dan akan cepat lelah. Kelelahan yang berlanjut tentu dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Mengurangi kebisingan dan getaran yang ditimbulkan oleh proses produksi maupun oleh alat/mesin jelas akan dapat meningkatkan produktivitas kerja karena pekerja dapat bekerja dengan konsentrasi kerja yang baik sehingga komunikasi antara pekerja dengan pekerja dan pekerja dengan mesin/alat terjalin denganbaik.
Kalau dengan alasan teknis kondisi suhu, kebisingan, getaran tidak dapat diatasi maka harus dilakukan latihan agar pekerja mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, dan penyediaan alat pelindung diri serta perbaikan organisasi kerja dengan pengaturan jam kerja-istirahat mutlak harus dilakukan. Penyediaan musik di tempat kerja juga dianjurkan diberikan secara tepat baik jenis, irama, waktu, intensitas suara, frekwensi pemberian, dan lainnya harus diatur sedemikian rupa agar mampu meningkatkan suasana kerja yang nyaman.

6. Kondisi waktu

Orang sering berpikir bahwa untuk meningkatkan roduktivitas harus ditambah waktu kerja seperti pemberian lembur. Untuk jangka waktu pendek mungkin hal ini ada benarnya, tapi untuk jangka waktu lama lembur malah dapat menurunkan kapasitas pisik seseorang yang pada akhirnya menurunkan produktivitas, dan bahkan sangat mungkin mengakibatkan kecelakaan akibat pekerja mengalami kelelahan. Banyak kecelakaan kerja terjadi setelah pekerja lebur sehari sebelummnya. Maka hal yang penting harus diperhatikan adalah pengaturan jam kerja lembur dan stirahat dengan baik serta perlu diberikan asupan kalori tambahan agar pekerja tetap dalam kondisi baik untuk bekerja.
Jam kerja optimal untuk adalah 8 jam sehari, maka janganlah kita paksakan untuk menambah jam kerja seseorang apalagi setiap harinya. masih mampu untuk bekerja tambahan adalah 1 jam setelah mereka bekerja 8 jam dengan catatan mereka diberikan rehat 2 kali dan 1 kali makan siang. Bila pekerja kasar maka perlu diberikan waktu istirahat yang lebih lama dibandingkan dengan pekerja ringan. Pengaturan waktu kerja juga dapat dilakukan dengan mengatur shif kerja sehinga pekerja dapat bekerja secara bergilir dan tidak terjadi lembur. Dari tiga rota kerja yang ada maka rotasi kerja 2-3-3 merupakan rota kerja yang paling baik kalau ditinjau dari aspek kesehatan, budaya, sosial, biologis, ekonomis dan lainnya.

7. Kondisi sosial

Harga diri, kepuasan, motivasi, merupakan keharusan bagi setiap pekerja, maka kondisi seperti ini haruslah menjadi pertimbangan pimpinan perusahaan dalam menerapkan segala kebijakan yang terkait dengan karyawan. Perlu adanya sistem reward and punishment yang jelas dan peningkatan interaksi antara karyawan dengan karyawan maupun karyawan dengan pimpinan. Demikian juga perlu diterapkan manajemen partisipasi agar karyawan ikut merasa bertanggungjawab terhadap produktivitas maupun kelangsungan perusahaan.

8. Interaksi -mesin

Dalam interaksi -mesin, maka faktor display dan kontrol sangat perlu diperhatikan. Desain display dan kontrol harus benar-benar memudahkan operator untuk bekerja, mudah dioperasikan dan tidak memberikan penafsiran yang ganda. Interaksi antara mesin dengan pekerja menjadi sangat penting diperhatikan karena masing-masing memiliki keterbatasan dan perubahan-perubahan yang timbul pada setiap elemennya akan dapat memberikan pengaruh terhadap elemen lainnya. Dalam sebuah sistem interaksi -mesin, dapat dikatakan sebagai sistem yang tertutup, dimana memegang posisi kunci karena setiap keputusannya tergantung pada dirinya (Sritomo, 2003).

Keselamatan Kerja di Peralatan Mekanik  dan Mesin-Mesin

Penggunaan beberapa peralatan produksi maupun mesin-mesin tidak dapat dihindari dalam suatu industri, baik peralatan berteknologi rendah, sedang, maupun tinggi. Peningkatan penggunaan mesin-mesin produksi, mesin mekanis, serta peralatan produksi lainnya begitu meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini tentu membutuhkan pengetahuan akan penggunaan maupun pengoperasiannya agar pekerja terhindar dari kecelakaan kerja maupun kerusakan mesin/alat yang digunakan. Mesin mesin produksi banyak digunakan pada industri logam, minyak, bahan makanan, bahan kimia, pertanian, perkebunan, kehutanan, dan lain-lain. Maka untuk terciptanya kondisi keselamatan dan kesehatan kerja yang setinggi-tingginya perlu diperhatikan berbagai faktor antara lain:

A. Kondisi mesin

Mesin sebelum dioperasikan haruslah diketahui kondisinya agar dalam pengoperasiannya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan terganggunya proses produksi maupun kecelakaan kerja. Kondisi mesin yang perlu diperhatikan adalah kondisi statis mesin meliputi keberadaan seluruh komponennya dan kondisi dinamis mesin meliputi kemampuan mesin sesuai dengan spesifikasinya dan tujuan dari penggunaan mesin tersebut (Syamsul, 1990).

B. Operasi mesin

Mesin harus dioperasikan sesuai dengan petunjuk manual dari mesin tersebut agar mesin dapat bekerja secara optimal dan menjamin tidak ada kerusakan dan kesalahan dalam mengoperasikan. Penyimpangan akibat kesalahan operator dalam

mengoperasikan mesin berakibat pada kerja mesin yang tidak baik dan bahkan dapat menimbulkan bahaya ledakan, kebakaran, dan kerusakan sumber produksi lainnya.

C. Peralatan mesin yang bergerak dan berputar

Operator harus mengetahui betul mana bagian mesin/peralatan yang bergerak/berputar. Untuk itu operator mesin harus selalu memperhatikan ruang bebas dari gerakan/putaran mesin agar tidak terjadi gesekan/sentuhan dengan bagian- bagian yang berputar tersebut. Setiap peralatan yang bergerak/berputar harus terpegang dengan kuat pada dudukannya. Sebelum mesin dioperasikan maka bagian ini harus dipastikan aman terlebih dahulu.

D. Peralatan yang tidak tampak

Kontruksi mesin dewasa ini yang semakin ruwet dan komplek, tentu saja ada bagian peralatan yang tidak tampak dari bagian luar. Kondisi ini operator harus mengetahui cara-cara yang tepat untuk mengetahui bagian-bagian tersebut sehinga dapat menyakinkan bahwa bagian tersebut aman untuk dioperasikan. Kerusakan pada bagian ini sangat berbahaya dan dapat menimbulkan bahaya ledakan, kebakaran, kemacetan mesin, dan lainnya karena sangat mungkin bagian ini merupakan bagian yang melibatkan panas, proses pembakaran, tekanan, dan putaran yang tinggi.

E. Penyangga danpemegang

Kontruksi penyangga dari setiap peralatan mesin-mesin harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pemegang bagian-bagian mesin maupun pemagang bahan baku pada saat proses produksi harus cukup kuat menahan beban pada saat dioperasikan. Pegangan atau penyangga harus cukup kuat bila menerima beban kejut dan getaran dari mesin. Bila harus digunakan ikatan sementara juga harus benar- benar dipertimbangkan kekuatan ikatan agar tidak terlepas saat operasi mesin. Sedapat mungkin hindari pegangan atau penyangga dengan tangan, karena kondisi ini dapat menyebabkan tangan terluka saat menerima beban.

F. Pakaian kerja

Pada saat mengoperasikan mesin-mesin terutama mesin produksi yang banyak terdapat bagian yang berputar maka pakaian kerja harus benar-benar diperhatikan. Pakaian kerja yang baik adalah pakaian kerja yang bahannya dapat menyerap keringat dengan baik, tidak panas saat digunakan dan mampu melindungi bagian tubuh dari goresan, luka maupun hal lain yang berkaitan dengan pekerjaannya. Pakaian yang longgar, lengan baju yang lebar, dasi, celana longgar, dan pakaian yang tidak sepantasnya jangan digunakan di sekitar peralatan yang berputar. Oleh karena itu gunakan pakaian yang pas (cover all), sepatu kerja (safety shoes), kaca mata kerja, pengikat rambut/topi kerja perlu dipakai oleh operator mesin. Selama kerja sebaiknya operator selalu menggunakan alat pelindung diri yang tepat agar terhindar kemungkinan bahaya di tempat kerja.

G. Cara kerja/sikap kerja

Cara kerja atau sikap kerja yang salah selama proses kerja dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Adanya bagian mesin yang berputar, tajam, menonjol, dan licin memungkinkan terjadinya kecelakaan kerja. Untuk itu apabila ada bagian mesin yang berpotensi menimbulkan bahaya perlu diberi tutup, tanda peringatan, dan pengaman sehingga dapat mencegah orang untuk menyentuhnya. Pada bagian mesin yang berputar jangan sekali-sekali menghentikannya dengan tangan. Gunakan ala-alat yang sesuai untuk setiap operasi mesin dan jangan lupa matikan mesin sebelum dilakukan perbaikan apapun. Sikap kerja juga penting diperhatikan dalam mengoperasikan peralatan/mesin, hindari sikap kerja paksa dan posisi bidang kerja harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang sedang dilakukan.

H. Cara angkat/angkut

Proses angkat-angkut dalam industri adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, untuk itu sedapat mungkin gunakan alat bantu angkat- angkut yang sesuai dengan jenis, sifat, dan ukuran yang diangkut. Mesin-mesin pengangkat hendaknya selalu diperiksa secara teratur dan operator harus terlatih dengan baik dan mempunyai sertifikat. Alat-alat angkut harus digunakan sesuai dengan batas-batas

muatan  yang  diijinkan.  Kalau terpaksamenggunakan    sebagai alat angkat-angkut maka hindari adanya gerakan yang berlebihan dan beban yang berlebihan.

I. Penggunaan ala-alat bantu

Penggunaan beberapa alat bantu dalam industri harus mempertimbangkan fungsinya dengan benar, karena kebanyakan alat bantu dioperasikan dengan tangan. Untuk itu desain alat bantu harus sesuai dengan ukuran tangan pekerja. Pegangan tidak boleh licin, maupun terlalu kasar. Dalam penggunaan perkakas tangan hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:
a.       Alat tangan harus berkualitas baik, kuat, dan mudah dioperasikan
b.       Alat tangan tidak boleh digunakan di luar peruntukannya.
c.       Pegangan sebaiknya terbuat dari bahan yang mampu meredam panas, getaran dan aliran listrik.
d.       Ukuran perkakas tangan harus sesuai dengan ukuran tangan .
e.       Berat perkakas tangan tidak boleh terlalu berat.
f.        Cara penggunaan harus jelas apakah power full atau tidak.

Alat-Alat Pengaman

Kecelakaan kerja di industri banyak disebabkan oleh tidak berfungsinya alat- alat pengaman atau yang berwenang gagal mengamankan kondisi kerja. Kecelakann kerja ini banyak merugikan perusahaan karena rusaknya faktor produksi seperti bahan baku, mesin, dan lingkungan tempat kerja, disamping banyak juga meyebabkan korban jiwa. Usaha pencegahan terhadap kecelakaan kerja ini banyak ditujukan untuk penyelamatan pekerja, mesin/alat, tempat kerja, dan lingkungan kerja di sekitar. Untuk itu lingkungan kerja harus memnuhi keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik, sejak mulai perencanaan sampai industri/pabrik berdiri. Gedung dan fasilitas pendukung lainnya harus direncanakan dengan baik termasuk fasilitas alat-alat keamanan seperti alat pemadam api ringan, detektor asap, pintu- pintu darurat maupun tangga darurat yang memberikan jalan untuk penyelamatan diri. Alat-alat pengaman pada mesin-mesin juga harus selalu dalam keadaan siap pakai dan berfungsi bilamana diperlukan. Demikian juga alat-alat pelindung diri bagi operator harus selalu dalam kondisi yang baik dan digunakan secara tepat

Aturan kerja dan petunjuk operasi dan petunjuk operasi dalam kondisi darurat harus selalu terpasang dan dengan mudah dilihat orang dan dengan mudah dipahami orang. Adapun alat-alat pengaman industri yang umum dapat disampaikan sebagai berikut:
a.              Pengaman mesin harus mampu melindungi mesin dan tenaga kerja dari bahaya yang timbul. Pengaman mesin harus dapat berhenti secara otomatis bila terjadi kelainan pada operasi.
b.             Tersedia pagar pengaman untuk mencegah masuknya bagian tubuh ke mesin atau bagian yang bergerak/berputar.
c.              Pengaman jangan sampai menyebabkan ketidaknyamanan pekerja, karena pekerja mungkin akan melepas pengaman tersebut.
d.             Pengaman jangan sampai mengganggu proses produksi.
e.              Pengaman harus bekerja secara otomatis atau dengan sangat mudah dioperasikan.
f.                Pengaman harus sesuai dengan pekerjaan dan mesin.
g.             Pengaman harus merupakan bagian integral dari mesin.
h.             Pengaman harus mudah dirawat, dilumasi, digemuki, atau hal lain yang dipandang perlu.
i.                 Pengaman tidak boleh menimblkan bahaya tersediri bagi perator.
j.                 Pengaman arus mampu melindungi dari hal-hal yang tak terduga.
k.             Pengaman harus tahan terhadap korosi, api, maupun air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *