Tips Dalam Merancang Pembangkit Listrik / Power Plant

Merancang pembangkit listrik atau power plant memerlukan perencanaan yang tepat karena pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Terkait dengan besarnya investasi yang dikeluarkan untuk membangunnya.Tentu saja tujuannya yaitu agar pembangkit listrik harus dapat beroperasi dengan baik sehingga menghasilkan keluaran daya listrik yang diharapkan.

Faktor keberhasilan dalam perancangan pembangkit listrik dapat dilihat dari seberapa besar nilai EAF (Equivalent Availability Factor). Tujuan yang diharapkan adalah mendapatkan nilai EAF yang optimal, efisiensi yang tinggi dan heat rate yang rendah. Pembangkit listrik harus beroperasi terus menerus, jika sewaktu-waktu pembangkit mati atau pembangkit berhenti beroperasi, potensi kerugiannya harus ditekan seminimal mungkin. Artinya pembangkit listrik harus mendapatkan nilai EAF setinggi mungkin.

Baca juga : Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa di Indonesia

Laju panas adalah perbandingan energi panas yang dibutuhkan (dalam satuan kJ atau Btu) untuk menghasilkan daya listrik 1 kWh (kilo watt hour). Suatu pembangkit listrik dapat dikatakan memiliki efisiensi tinggi apabila memiliki heat rate yang rendah, karena pembangkit tersebut membutuhkan bahan bakar yang lebih sedikit dibandingkan dengan pembangkit yang memiliki heat rate yang tinggi. Salah satu metode yang mudah untuk menentukan nilai heat rate pada suatu pembangkit listrik adalah dengan mengetahui nilai SFC (Specific Fuel Consumption). Semakin kecil SFC pada beban yang sama, maka pembangkit listrik semakin efisien.

Ada beberapa faktor kunci keberhasilan dalam merancang pembangkit listrik yaitu:

1. Faktor Desain
Desain adalah faktor kunci sukses terpenting, faktor desain dapat berupa:

  • Desain Kapasitas
    Kapasitas suatu pembangkit listrik akan mempengaruhi desain ketel uap, turbin generator, pemanas, deaerator, kondensor dan peralatan lainnya. Ini juga mempengaruhi tekanan desain, suhu dan alirannya.
  • Pemilihan Bahan Bakar
    Pemilihan bahan bakar akan mempengaruhi daya keluaran listrik yang dihasilkan, selain itu juga berpengaruh pada jenis ketel uap yang digunakan, jenis tungku, sistem penanganan bahan bakar, sistem penanganan abu dan komponen pendukung lainnya.
  • Faktor Lokasi
    Faktor lokasi seperti kondisi angin, gempa bumi, korosi, kelembaban, reservoir coolant dan lain-lain.
  • Standar Material
    Apakah akan menggunakan standar ASME, JIS, DIN, dan lain-lain.

2. Faktor Konstruksi
Faktor konstruksi sangat penting untuk diperhatikan dalam merancang pembangkit listrik, seperti metode dan urutan konstruksi dan peralatan yang digunakan. Sehingga pada saat tahap konstruksi diharapkan kesalahan sesedikit mungkin sehingga durasi konstruksi tidak tertunda dan biaya tidak banyak. Dalam hal ini faktor keamanan tetap harus di perhatikan.

3. Faktor Commisioning
Commissioning merupakan pengujian awal yang menjadi tolak ukur keberhasilan suatu pembangkit listrik. Pertama kali setiap peralatan harus diuji (pengujian individu) setelah melakukan pengujian sistem secara keseluruhan.

4. Faktor operasional dan maintenance
Dalam faktor ini, operasional dan pemeliharaan harus dirancang dengan baik baik, baik dalam jadwal pemeliharaan maupun jenis pemeliharaan, sehingga pembangkit listrik dapat beroperasi secara terus menerus tanpa ada kerusakan.

Dengan mengetahui faktor-faktor dalam merancang pembangkit listrik, seorang insinyur diharapkan dapat membuat dan merancang pembangkit listrik yang efisien.

Jangan lupa Ikuti INSTAGRAM dan FACEBOOK kami di ILMU TEKNIK dan dapatkan informasi seputar dunia teknik setiap harinya.

One thought on “Tips Dalam Merancang Pembangkit Listrik / Power Plant

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *